Senin, 04 Januari 2016

MEMBANGUN PERDAMAIAN DUNIA - KASIH YANG BERTINDAK


"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Matius 7:12 (TB)
Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Roma 13:9-10 (TB)

Pendahuluan
Ada sebuah pertanyaan berat bagi Plato, Socrates, dan Aristoteles, mengenai: bagaimana menciptakan persatuan di dalam keberagaman/perbedaan – “unity in diversity” ?. Pikiran mereka bekerja dengan keras untuk mewujudkannya, bahkan terciptanya ide “uni-versity” adalah juga dari pemikiran mereka. Akan tetapi mereka tetap belum dapat merumuskan bentuk dari rumus pasti guna menciptakan persatuan di dalam keberagaman/perbedaan.
Sebagai bangsa Indonesia kita harus bersyukur kepada TUHAN Yang Maha Esa, karena memberikan hikmat kepada para pendiri Negara kita tercinta ini, yang menetapkan sebuah falsafah yang menjadi semboyan bagi INDONESIA, yaitu: Bhineka Tunggal Ika, yang di ambil dari sebuah syair kuno “Kakawin [sajak] Sutasoma, karya Mpu. Tantular, yang jika diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
Kakawin tersebut adalah sangat istimewa dikarenakan mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:[1]
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terjemahan[2]:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.



KASIH YANG BERTINDAK
Didalam pelaksanaan Taurat, dibuatlah penjabaran sebanyak 613 MITSVOT ( terdiri atas 248 מצות עשה - "MITSVOT 'ASEH" (perintah) dan 365 מצות לא תעשה- "MITSVOT LO TA'ASEH" (larangan). Angka 248 merupakan jumlah tulang dalam tubuh manusia, dan 365 adalah jumlah hari dalam satu tahun)[3]. Esensi dari 613 mistvot tersebut adalah mengatur bagaimana cara berhubungan dengan TUHAN serta hubungan manusia dengan sesamanya dalam konteks "human sacredness". Ke 613 mitsvot tersebut oleh penganut Judeo-Christian diajarkan terangkum dalam satu frasa indah "KASIH", - Ke 248 perintah yang menggambar 248 tulang manusia, diharapkan mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia itu tidak dapat lepas dari topangan akan ketaatanterhadap pelaksanaan perintah-perintah dalam hukum-hukum TUHAN, sedangkan 365 larangan, diharapkan, manusia mengingat untuk selalu waspada dan menjauhi dosa, melalui ketaatan terhadap larangan tersebut dalam keseharian mereka.
Di dalam Matius 7:12, kata hukum Taurat menggunakan kata “nomos” sedangkan kata kitab para nabi menggunakan kata “prophetes”[4], dan jika kita membandingkannya dengan Roma 13:9-10 serta mencermatinya dengan baik-baik maka kita dapat menemukan penjelasan yang lebih baik lagi tentang hubungan ketiga ayat tersebut dalam konteks membangun perdamaian dunia kita ini. Ketiga ayat tersebut menyatakan bahwa keseluruhan hukum yang ada di dalam Kitab Suci atau Alkitab dapatlah disejajarkan dengan praktek Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri - agapao [v] plesion sou hos seautou [reflesi dari dirimu] yang transliterasinya dapat kita parafrasakan sebagai berikut: sebuah tindakan kasih yang nyata kepada sesama kita yang kita akui sebagai refleksi dari kita sendiri sebagai sesama “being” manusia. Sehingga ita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa keberagaman adalah bukan sebuah alasan yang dapat menghentikan kita untuk saling mengasihi dan berbagi realitas akan kemanusiaan kita, -  bukan sebaliknya sebagaimana "konsep Hitler", yang merendahkan sesama manusia karena berdasarkan perbedaan “ras” yang sebenarnya tidak pernah dapat dijadikan alas an untuk membangun sebuah konflik bahkan saling membinasakan satu dengan yang lainnya !.
Pada bagian lain di dalam Perjanjian Baru dijabarkan mengenai karakteristik “kasih”, yang pada realitasnya harus dipraktekan kepada sesama dan dengan semangat  “saling”
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap..
1 Korintus 13:4-8
Parafrasa: Sudahkan kita saling sabar satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling murah hati satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling tidak cemburu satu dengan yang lain - Sudahkan kita saling menghargai satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling rendah hati satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling bersikap sopan satu dengan yang lain - Sudahkah kita tidak saling bersikap egois satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling ramah, memaafkan dan melepaskan kepahitan hati satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling mendukung dalam penegakan keadilan satu dengan yang lain - Sudahkah kita saling mendukung dalam keberpihakan kita kepada kebenaran dimana iya adalah iya dan tidak adalah tidak [saling dalam kepastian hukum yang adil] - Sebab kasih itu adalah praktek “saling”, yang merupak wujud nyata bahwa kita adalah orang-orang yang memahami kemanusiaan dan meyakini adanya TUHAN sang pemberi kasih dalam kehidupan manusia.
Penutup
Ketika Ibu Teresa menerima hadiah nobel, beliau ditanya "apa yang dapat kita lakukan untuk mendorong perdamaian dunia?" Jawabnya, "Pulanglah dan kasihi keluargamu." Dengan kata lain beliau menyatakan bahwa: “mulailah dari perkara yang kecil untuk membangun dunia ini menjadi damai”, bahkan Budha pernah mengatakan: Hatred does not cease by hatred, but only by love; this is the eternal rule. (Kebencian tidak berhenti oleh kebencian, tetapi hanya dengan kasih, ini adalah aturan yang kekal). Tidak ada hukum di dunia ini yang sanggup menentang hukum “KASIH” yang memiliki kekuatan untuk menciptakan perdamaian, tetapi banyak sekali orang yang mengaku dirinya “para pemilik kasih yang intelektual” tetapi pada kenyataannya mereka tidak memiliki “Kasih”, bahkan cenderung menjadi bodoh dengan menghakimi satu dengan yang lainnya karena sebuah istilah “perbedaan”.

Salam Perdamaian – TUHAN memberkati anda semua


Oleh: Sonny Cornelly S. MTh


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika
[2] Terjemahan ini didasarkan, dengan adaptasi kecil, pada edisi teks kritis oleh Dr Soewito Santosa
[3] http://www.jewfaq.org/613.htm
[4] http://www.Sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KUASA DARAH YESUS MENURUT WAHYU 1:5b

... Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya. Wahyu 1:5 b (TB) Kothbah Oleh: Ev. Sonny C...